Home » Liberal Arts di UPJ » Daftar Penelitian Pusat Seni dan Ilmu

Daftar Penelitian Pusat Seni dan Ilmu

1. “Heavy Metal Moms, Heavy Metal Dads: Revisiting (Cultural) Identity Formation Through the Consumption of Heavy Metal Music in 1980’s Indonesia.”

Yuka Narendra dan Gita Soerjoatmodjo

Riset ini bertujuan untuk:

1. Mengungkapkan bagaimana generasi 1980-an memaknai keindonesiaan secara progresif melalui konsumsi musik Heavy Metal

2. Menjelaskan bagaimana pemaknaan tersebut berpengaruh dalam konstruksi nilai-nilai yang ditumbuhkembangkan dan diteruskan dari generasi 1980-an tersebut ke generasi selanjutnya, melalui proses menjadi dewasa dan menjadi orang tua

2. “Metalhead Indonesia: Artikulasi dan Konstruksi Identitas Melalui Konsumsi Budaya Populer Dalam Subkultur Heavy Metal di Indonesia.” (Disertasi Doktoral, working title)

Yuka Narendra

Berawal dari respon terhadap gejala esensialisasi keindonesiaan akhir-akhir ini yang rentan dengan isu fanatisme agama, chauvinisme etnis dan berbagai isu sektarian lain penelitian ini merupakan studi kritis tentang identitas keindonesiaan kontemporer, riset ini mencoba untuk mengungkapkan argumentasi tentang keindonesiaan “lain” yang kontemporer, yang lintas kelas, ideologi, agama dan etnisitas. Tujuan akhir dari riset ini adalah menawarkan berbagai pilihan, cara, metode dan semangat untuk menjadi Indonesia yang egalitarian dan demokratis.

3. “Online/ Offline: A Phenomenological Analysis of New Media’s Role in the ‘World’ of Education.” (Online/ Offline: Sebuah Tanggapan Fenomenologis tentang Peran New Media dalam ‘Dunia’ Pendidikan)

Mitha Budhyarto

Dipresentasikan pada International Conference New Media and Human Civilization, Universitas Padjadjaran, September 2011.

Pertumbuhan pesat penggunaan Internet dalam aktifitas pendidikan perlu dipertanyakan dengan tegas. Di satu sisi, dapat dikatakan bahwa dampak positif dari ‘demokratisasi informasi’ adalah peningkatan efisiensi dan efektifitas dalam proses belajar dan mengajar. Namun di sisi lain, tidak dapat dilupakan bahwa pendidikan jugalah sebuah proses sosial, yang memerlukan interaksi pada ruang dan waktu yang konkret (bukan maya). Di project ini, saya memberi tanggapan tentang permasalahan ini, dengan mempertanyakan: apakah yang begitu signifikan dari ‘keberadaan konkrit’  ruang dan waktu tatap muka, yang tidak bisa tersubstitusi oleh kelebihan-kelebihan yang ditawarkan oleh proses digitalisasi?

4. “‘Livable Space’ and Post-Colonial Heritage: Rethinking the Relationship between Aesthetics and Ethics.” (“’Ruang Layak Huni’ dan Tradisi Pascakolonial: Analisa tentang Hubungan Estetika dan Etika”)

Mitha Budhyarto

Untuk dipresentasikan di International Seminar Livable Space, Universitas Trisakti, 16-17 Februari 2012.

Penelitian ini mempunyai tiga tujuan:

1. Menjelaskan bahwa kajian estetika pada dasarnya tidak terbatas pada teori tentang kesenian dan keindahan, namun merujuk kepada pengalaman panca-indrawi tentang ruang sekitar

2. Menjelaskan hubungan erat antara estetika dan etika dalam diskusi tentang ruang huni manusia

3. Berargumentasi bahwa konsep tentang ’ruang layak huni’ di Indonesia harus dilandasi oleh pengertian kritis akan tradisi pascakolonialnya.